(Vibiznews - Banking&Insurance)
PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mengaku tak punya dana untuk melunasi
cicilan dana pokok nasabah Diamond Investa. Manajemen Bakrie Life sendiri juga
tak akan tahu sampai kapan dana para nasabahnya akan kembali sejak ditempatkan
sejak 2008 tersebut. "Kami memang masih menunggu dropping dana dari pemegang
saham. Masih dicarikan pendanaanya dan sepertinya tidak mudah," kata
Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto.
Menurut Timoer, pihaknya sendiri
tengah mengalami kesulitan. Oleh sebab itu pemegang saham yakni PT Bakrie
Capital Invesment (BCI) tengah mencarikan jalan terbaik. "Sekarang ini
memang masih dicarikan jalan karena memang likuiditas seret tapi group masih
punya aset non cash," tutur Timoer.
Kasus Bakrie Life bermula dari
penjualan produk asuransi unit-link Diamond Investa yang merupakan produk
hibrida antara asuransi jiwa dengan investasi pasar modal (umumnya reksadana).
Banyak nasabah yang tergiur dengan tawaran ini karena produk Diamond Investa
menawarkan imbal hasil 1,5 persen di atas bunga deposito per tahun plus manfaat
proteksi asuransi jiwa. Sayang pemasaran produk asuransi unit-link ini kemudian
bermasalah karena PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) diduga gagal membayar
imbal hasil beserta pokok dana nasabah dengan nilai total mendekati Rp 400
miliar. Hal tersebut ditengarai disebabkan adanya penyelewengan penempatan
portofolio yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Bakrie Life dianggap
melampaui batas dalam berinvestasi karena terlalu banyak menempatkan portofolio
reksadana pada saham-saham perusahaan grup Bakrie, sehingga ketika harga saham
perusahaan grup Bakrie berjatuhan akibat krisis global 2008 maka nilai
portofolio Bakrie Life pun ikut terhempas.
Seperti diberitakan, kasus gagal
bayar produk Diamond Investa milik PT Asuransi Jiwa Bakrie sudah berlangsung
sejak akhir 2008 hingga kini perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut belum
melunasi dana para nasabahnya. Bakrie Life baru melunasi dana pokok nasabah
kurang lebih hanya 15%, total utang Bakrie Life tercatat Rp 360 miliar.
Bakrie Life memang hanya mengumbar
janji-janji palsunya. Dana pokok nasabah Diamond Investa yang direncanakan
dicicil 25% per tahun tidak juga dibayar padahal sudah memasuki 2012.
Selama 2011 berarti Bakrie Life
tidak mencicil sama sekali.Bakrie Life baru membayar 2,5 kali dana pokok yaitu
Maret 2010, Juni 2010, dan September 2010. Total sisa cicilan pokok dan bunga
Diamond Investa Bakrie Life yang belum dibayar yaitu per September 2010 sampai
dengan Januari 2012.
NAMA :
1. Deni Panji Setiyoko (102210024)
2. Dwi Anggoro Utomo (102210031)
3. Dwi Nur Buana (102210035)
4. Eko Wahyu P. (102210038)
KELAS : V.R1
MATA KULIAH : Manajemen Risiko
Manajemen
Risiko Kredit
Tipe
Risiko Kredit (Credit Risk)
Pada
kasus yang dialami oleh PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life), merupakan jenis
tipe risiko kredit Defaul Risk, dimana perusahaan asuransi tersebut gagal
membayar imbal hasil beserta pokok dana nasabah dengan nilai total mendekati Rp
400 miliar.
Pengelolaan
Risiko Kredit
Dari
kasus yang ada maka yang dapat dilakukan PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life)
dalam mengelola risiko kredit adalah dengan melakukan proses identifikasi dan
pengendalian risiko kredit melalui :
1.
Penanganan
secara khusus pada kredit yang bermasalah.
Dimana penyelesaian permasalahan
anatara nasabah dan perusahaan diselesaikan berdasarkan kontrak yang berlaku,
sebab dalam setiap kontrak asuransi disebutkan tentang bagaimana cara
penyelesaian masalah jika terjadi sengketa.
2.
Melakukan
pengkajian ulang terhadap risiko portofolio perkreditan.
Karena dalam kasus ini ditengarai adanya penyelewengan
penempatan portofolio yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Bakrie Life
dianggap melampaui batas dalam berinvestasi karena terlalu banyak menempatkan
portofolio reksadana pada saham-saham perusahaan grup Bakrie.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar